Advanced Search
More Search Options
We found 0 results. Do you want to load the results now ?
Advanced Search
More Search Options
we found 0 results
Your search results

Kenapa KPR Syariah Angsurannya Terlihat Lebih Mahal ?

Posted by admin on 14 September, 2019
| 0

Memiliki rumah adalah setiap orang, karena dengan memiliki rumah sendiri kita bisa lebih mandiri. Namun tidak semua orang mampu membeli rumah dengan cara cash (tunai) karena harga rumah yang semakin lama semakin mahal. Oleh karena itu bank berlomba-lomba memberikan penawaran berupa kredit perumahan (KPR).

Namun dengan adanya produk KPR ini tetap saja membuat masyarakat galau karena bunga dari cicilan KPR ini cukup besar, terkadang terasa seperti membeli rumah dengan harga dua kali lipat. Memang, masalah membeli rumah ini tidak hanya dihadapi oleh Anda saja, bahkan banyak sekali orang yang mengeluhkan hal yang seperti ini. Setelah keluar produk KPR Konvensional yang terkenal dengan bunganya.

Keluarlah produk KPR Syariah yang mungkin Anda tahu bahwa praktik keuangan syariah melarang adanya riba dan Anda pun berharap cicilan KPR tidak akan mencapai setinggi cicilan KPR Konvensional. Tetapi, saya pun tidak jarang menemukan orang yang mengeluhkan bahwa cicilan KPR Syariah dirasakan lebih besar daripada cicilan KPR Konvensional. Padahal cicilan KPR Konvensional ini mengikuti suku bunga BI yang kita tahu jarang sekali turun.

Sebelum membahas kenapa KPR Syariah dirasakan lebih mahal daripada KPR Konvensional, saya mau membahas bagaimana KPR Syariah ini bekerja. Yuk kita simak cara kerja KPR Syariah dibandingkan dengan KPR Konvensional.

Cara Kerja KPR Syariah

Ternyata, dari sisi persyaratan pengajuan kredit seperti permintaan dokumen kredit dan proses kredit baik KPR Syariah dan KPR Konvensional ini tidak ada bedanya.

Padahal dulu, BI pernah mengeluarkan aturan mengenai Loan To Value (LTV) dimana persentase jumlah pinjaman terhadap nilai jaminan untuk syariah lebih ringan jika dibandingkan dengan konvensional.

Hal ini akan mengakibatkan dengan nilai rumah yang sama maka dengan pembiayaan syariah bisa memberikan plafon kredit yang lebih tinggi. Namun, aturan tersebut saat ini sudah direvisi oleh BI. Sehingga, LTV syariah dan konvensional sudah tidak berbeda lagi. Perbedaan KPR Syariah dan KPR Konvensional adalah cara perhitungan kewajibannya.

Tidak ada perhitungan bunga dalam pembiayaan syariah, seperti dalam skema kredit di bank konvensional. Jadi, tidak ada yang namanya istilah bunga murah atau bunga rendah dalam KPR Syariah ini. KPR Syariah ini menggunakan sistem bagi hasil, jadi nilai pinjaman syariah adalah nilai pembelian rumah plus margin.

Bank syariah akan memberitahukan berapa margin yang akan diambil oleh bank dan dibebankan kepada nasabah. Perlu diingat bahwa margin tersebut akan diberitahukan di awal, saat awal pengambilan kredit dan tidak akan berubah selama masa kredit.

Seperti yang sudah dijelaskan dalam KPR Syariah sebelumnya, bahwa terdapat berbagai macam akad, salah satu akad yang sering digunakan adalah akad Murabahah atau skema jual beli. Dalam skema murabahah ini, harga jual rumah sudah ditetapkan di awal ketika nasabah menandatangani perjanjian pembiayaan jual beli rumah. Misalkan Anda ingin membeli rumah seharga Rp500 juta.

Jangka waktunya adalah 10 tahun, maka bank syariah akan mengambil keuntungan atau margin sebesar Rp250 juta. Maka harga jual rumah kepada nasabah untuk masa angsuran 15 tahun adalah Rp750 juta.

Angsuran yang harus dibayar nasabah setiap bulan adalah Rp750 juta dibagi 180 bulan, yaitu Rp4,2 juta. Biasanya bank sudah menentukan besarnya margin, yang biasanya berbeda-beda tergantung dari jangka waktu pinjaman.

Semakin panjang masa pinjaman, maka akan semakin tinggi margin yang artinya semakin lama meminjam, maka besar porsi bagi hasil yang harus dibayarkan ke bank. Hal ini terkait dengan besar kecilnya risiko untuk bank.

Semakin lama pembiayaan diberikan, maka akan semakin besar kemungkinan nasabah membayar tepat waktu. Supaya mengantisipasi hal tersebut, bank akan membebankan margin yang lebih tinggi. Hal ini disebut kompensasi risiko.

Tingkat margin ini adalah hal wajib dilihat ketika membandingkan KPR Syariah. Besar kecilnya margin menentukan cicilan yang harus Anda bayar setiap bulannya.

Mengapa bisa dengan skema ini KPR Syariah bisa disebut lebih mahal dibandingkan dengan KPR Konvensional?

Alasan Mengapa KPR Syariah Lebih Mahal dari KPR Konvensional
Setelah saya menjelaskan mengenai margin atau keuntungan yang didapatkan dari KPR Syariah, kenapa KPR Syariah ini sering dicap mahal oleh masyarakat jika dibandingkan dengan KPR Konvensional?

Seperti yang telah saya jelaskan, bahwa dengan adanya margin ini, Anda akan diberikan cicilan yang tetap hingga berakhir masa tenor pinjaman Anda. Kalau KPR Konvensional biasanya akan memberikan bunga yang berbeda-beda.

Pada tahun-tahun awal Anda mengambil KPR Konvensional, biasanya Anda akan diberikan bunga flat yang biasanya jauh lebih kecil daripada cicilan KPR Syariah. Tetapi, Anda harus tahu, bahwa bunga flat tersebut akan berubah ketika cicilan Anda sudah menginjak 3 tahun.

Setelah 3 tahun, bunga yang akan dikenakan ke cicilan Anda adalah bunga mengambang yang akan mengikuti suku Bunga Bank Indonesia yang biasanya selalu berubah-ubah, seringnya naik tetapi terkadang bisa turun.

Tetapi keadaan suku bunga Bank Indonesia ini bisa turun merupakan keadaan yang jarang dan langka. Sehingga, tidak kaget saya mendengar bahwa klien saya mengeluhkan cicilan KPR nya pada tahun ke-4 atau ke-3 sudah mulai naik.

Hal ini tidak akan Anda temui di KPR Syariah karena harga rumah dan margin keuntungan bank sudah dipatok di awal saat perjanjian kredit. Jumlah keuntungan atau margin untuk bank sudah disepakati sejak awal.

Hal ini tentu saja berbeda dengan KPR Konvensional yang penetapan bunganya bersifat mengambang atau dikenal dengan floating, dimana jenis bunga ini tergantung kondisi pasar, bunga tidak dipatok, bisa tinggi dan bisa juga rendah.

Misalnya, Anda ingin mengambil KPR dengan masa tenor 15 tahun dan pembiayaan rumah sebesar Rp500 juta. Jika Anda menggunakan KPR Konvensional, pada tahun pertama hingga ketiga Anda mendapatkan cicilan sebesar Rp5,7 juta. Tetapi pada tahun keempat dan seterusnya, cicilan Anda akan meningkat menjadi Rp6,4 juta karena sudah menggunakan bunga mengambang. Dan bisa saja bunga mengambang ini akan semakin besar dari tahun ke tahun.

Jika Anda menggunakan KPR Syariah, Anda akan dikenakan cicilan sebesar Rp6,3 juta dari tahun ke 1 hingga tahun ke 15, tanpa ada perubahan seperti KPR Konvensional.

Kenali Produk KPR yang Akan Anda Gunakan
Jika Anda memang tertarik untuk mengambil KPR, maka Anda sudah mulai mencari informasi mengenai produk KPR yang ada di pasaran. Apakah Anda ingin mengambil KPR Konvensional atau KPR Syariah.

Jangan sampai Anda merasa KPR ini menjadi beban terhadap hidup Anda, karena sebelumnya Anda pun sudah harus menghitung apakah Anda sanggup untuk membayar KPR tersebut atau Anda malah akan kewalahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.